3 Jenis Diskriminasi Tersembunyi Yang Dialami Pegawai Wanita

By Steffi Teowira, 6 years ago
Diskriminasi berdasarkan gender adalah jenis diskriminasi yang membatasi individu mencapai potensi maksimal hanya karena mereka terlahir sebagai satu gender tertentu. Ini dapat terjadi baik pada pegawai wanita maupun pria, misalnya jenis-jenis pekerjaan yang telah dikotak-kotakkan sesuai gender, dan stigma yang melekat pada profesi tertentu. Namun sulit dipungkiri bahwa korban diskriminasi gender kebanyakan adalah wanita.

Diskriminasi jenis ini cenderung sulit untuk dibuktikan, bahkan untuk sesuatu yang cukup jelas seperti diabaikan untuk kenaikan jabatan, karena tentu saja perusahaan tidak akan blak-blakan mengatakan bahwa Anda tidak dipertimbangkan naik jabatan sebagai manager karena Anda adalah perempuan. Walau begitu, ada beberapa tanda-tanda diskriminasi yang lebih 'halus' yang bisa Anda cermati.


1. Pertanyaan Interview Bersifat Agak Personal
Saat wawancara awal, interviewer menanyakan pertanyaan mengenai status berkeluarga atau rencana Anda untuk menikah dan memiliki anak dalam waktu dekat. Sering kali pertanyaan yang terasa tidak relevan dengan pekerjaan ini muncul untuk 'menyaring' pegawai yang dirasa akan sibuk mengurus keluarga dan tidak dapat berkomitmen penuh pada perusahaan, sekaligus untuk mengurangi beban finansial di masa depan.

Banyak perusahaan yang diam-diam enggan mempekerjakan pegawai wanita dengan alasan khawatir adanya konflik produktivitas saat terjadi kehamilan, belum lagi tanggungan finansial upah cuti hamil yang harus dibayarkan penuh. Walau Anda dan pasangan telah memiliki rencana tersendiri, interviewer umumnya akan berasumsi kalau Anda sebagai wanita yang akan menanggung kewajiban merawat anak di rumah. Padahal, pertanyaan seperti ini jarang sekali diajukan kepada kandidat laki-laki.

2. Kontrak Membatasi Hak
Ketika menandatangani kontrak atau menegosiasikan paket kompensasi moneter dan benefit, ada baiknya Anda paham tentang peraturan negara seputar hak-hak wanita, dan cermat membaca pasal yang mengatur kompensasi dan batasan. Misalnya, ada yang memasukkan aturan bahwa Anda tidak diperbolehkan untuk menikah atau hamil sepanjang periode tertentu, atau upah cuti hamil anak kedua tidak ditanggung perusahaan atau hanya separuhnya.

Peraturan-peraturan ini tidak diatur secara spesifik oleh Undang Undang, sehingga celah ini kadang dimanfaatkan perusahaan yang mencoba menegosiasikan pemotongan benefit untuk pegawai wanita. Jenis keuntungan lainnya seperti cuti haid juga seringkali tidak dibahas secara eksplisit dalam kontrak kerja. Tidak sedikit pegawai yang kurang familiar dengan keberadaan cuti ini karena tidak disosialisasikan oleh pihak perusahaan.

Next

Subscribe to our newsletter

Get latest tips for your career by subscribe to our newsletter



Read This Next



Tweets
Follow Us